Cari Blog Ini

Selasa, 09 Juli 2013

LDII Hadiri Sidang Istbat Penentuan Awal Ramadhan 1434 H


JAKARTA, Sidang isbat untuk menentukan awal bulan Ramadhan 1434 H di gelar petang ini (Senin 8/7) di Kantor Kementerian Agama, Jakarta. Melalui sidang isbat, Kementerian Agama atau Kemenag akan menetapkan awal puasa Ramadhan 1434 H, 2013M.

Sidang isbat yang akan diikuti oleh para ahli astronomi dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), melibatkan tim hisab dan rukyat dari masyarakat dan ormas Islam seperti LDII, Nahdlatul Ulama, dan beberapa pesantren akan mempresentasikan posisi bulan dari seluruh Indonesia.

Zubaidi, Kepala Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat Kemenag mengatakan, melalui Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Kemenag telah mempersiapkan tim hisab dan rukyat di seluruh Indonesia. Tim pengamatan hilal disebar di berbagai titik di 33 provinsi.
Dari hasil sidang isbat nantinya akan langsung disosialisasikan ke masyarakat, Kemenag akan mengirimkan surat edaran ke semua kantor wilayah Kemenag.

Ketua DPP LDII KH. Criswanto Santoso mengatakan,untuk menentukan awal Romadlon,LDII berpedoman pada rukyatul hilal, meski dari LDII juga memiliki tim rukyatul hilal, LDII masih menunggu penetapan pemerintah terkait awal Ramadhan tahun 2013. 

"Jika terjadi perbedaan penetapan awal Ramadhan, maka LDII berharap hal itu tidak dibesar-besarkan lantaran umat Islam Indonesia sudah terbiasa mengalami perbedaan pelaksanaan awal Ramadhan, namun jika masih bisa dimusyawarohkan ya sebaiknya di musyawarohkan, yang penting tidak saling menyalahkan," Ujar Cris pada sidang isbat. Muhammadiyah tidak hadir lantaran sebelumnya, dengan metode hisab, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadhan pada Selasa (9/7/2013) besok. Adapun PBNU belum menentukan awal Ramadhan dan akan menggunakan metode rukyatul hilal.(AR)
(http://www.ldii.or.id)

Senin, 08 Juli 2013

LDII Diminta Pemerintah Untuk Rukyat Hilal Penentuan Awal Ramadan 1434 H

Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) dalam penentuan awal Ramadan tahun 1434 H ini diminta Kemenag RI untuk melakukan pengamatan (rukyat hilal) di lokasi Pelabuhan Ratu Jawa Barat. Hasil pengamatan ini menjadi bahan sidang istbat penentuan awal Ramadan sore nanti. Seperti yang berita yang dilansir oleh http://www.suarakarya-online.com berikut ini:

AWAL RAMADHAN
Umat Diimbau Ikuti Putusan Pemerintah
 

Senin, 8 Juli 2013
JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah akan menggelar sidang isbat untuk menentukan awal Ramadhan 1434 H/2013 M pada hari Senin (8/7) ini pukul 17.00 WIB.
Demikian dikemukakan Wakil Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar, di Jakarta, Minggu (7/7). "Sidang isbat insya Allah diselenggarakan pada Senin sore. Umat diimbau agar sebaiknya mengikuti kesepakatan pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI)," katanya.
Nasaruddin menyebutkan, penentuan awal puasa tak bisa dilakukan tanpa ada aturan yang jelas. Kalau tidak melalui hisab, rukyat, atau sains, tutur dia, semua tak bisa dipertanggungjawabkan.
Dalam perhitungan imkan al-rukyat (kriteria penentuan awal bulan), ketinggian bulan di atas cakrawala minimum 2 derajat pada saat matahari terbenam. Patokan Inilah yang digunakan pemerintah.
Ia mengatakan, seperti tahun lalu, sidang kali ini juga akan dihadiri organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, di antaranya MUI, Nahdlatul Ulama (NU), dan lain-lain, termasuk Muhammadiyah, yang sudah menentukan awal Ramadhan, juga diundang meski memutuskan tak akan hadir.
"Kewajiban kami mengundang ormas-ormas Islam. Soal datang atau tidak, itu urusan lain," kata Nasaruddin menanggapi sikap Muhammadiyah yang tak akan mengirim utusannya di sidang isbat. Selain itu, kata Nasaruddin, sidang isbat juga akan mengundang perwakilan negara-negara sahabat.
Ia memperkirakan, awal puasa tahun ini jatuh pada Rabu, tanggal 10 Juli 2013. Meski demikian, pemerintah tetap akan menggelar sidang isbat untuk memastikan posisi hilal (bulan) pada Senin.
Untuk itu, kata dia, dalam sidang isbat akan menghadirkan para ahli astronomi dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang akan mempresentasikan posisi bulan dari seluruh Indonesia.
Ketua Bidang Fatwa MUI KH Ma'ruf Amin mengatakan, ada dua metode yang digunakan untuk menentukan awal puasa dan Lebaran Idul Fitri. Dua metode itu adalah, imkan al-rukyat dan wujud al-hilal. Dia memprediksi, secara imkan al-rukyat bahwa puasa dimulai pada Rabu (10/7), sementara wujud al-hilal pada Selasa (9/7).
Sejumlah ormas Islam yang sudah menetapkan awal Ramadhan yakni, Al-Jam`iyyatul Washliyah (Al-Washliyah), dan Pengurus Pusat (PP) Persatuan Islam (Persis), yakni Rabu. Ketua Umum Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Abdullah Sam, mengatakan, pihaknya belum menetapkan awal Ramadhan karena masih menunggu sidang itsbat.
"Dalam sidang ini Kemenag telah memerintahkan LDII untuk mengamati posisi hilal di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat, dan LDII memiliki teropong untuk mengamati hilal di sana, hasil pengamatan akan dilaporkan ke sidang isbat melalui telepon," kata Abdullah Syam.
Ulama juga menunggu keputusan pemerintah. "Pemerintah merupakan ulil amri yang harus kita taati sebagaimana termaktub dalam Al-Qur`an," kata Ketua MUI Prof Umar Shihab.
MUI, tutur Umar, berharap bila terjadi perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan agar tak dibesar-besarkan, karena umat Islam Indonesia sudah terbiasa mengalaminya.
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadhan jatuh pada Selasa, 9 Juli 2013. Muhammadiyah juga memastikan tak akan hadir dalam sidang isbat karena telah menetapkan awal Ramadhan dengan metode hisab.
Sebelumnya, Ketua Komisi VIII DPR Ida Fauziyah, mengatakan, perbedaan penetapan hari-hari besar Islam di Indonesia tidak hanya terjadi tahun ini saja.
"Fenomena ini sudah sering terjadi. Jadi, tidak perlu diperdebatkan," katanya. Yang terpenting baginya adalah masyarakat bisa menjalankan ibadah puasa dengan tenang.
Dalam maklumat yang ditandatangani Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin itu ditetapkan, 1 Ramadan1434 H jatuh pada Selasa Wage, 9 Juli 2013 M; 1 Syawal 1434 H jatuh pada Kamis Wage, 8 Agustus 2013 M; 1 Zulhijah 1434 H jatuh pada Minggu Pon 6 Oktober 2013 M; Hari Arafah (9 Zulhijah 1434 H) Senin Legi, 14 oktober 2013 M; Idul Adha (10 Zulhijah 1434 H) Selasa Pahing, 15 Oktober 2013 M.
Sementara itu, meski pemerintah belum menetapkan awal Ramadhan 1434 H, namun Jemaah An Nadzir yang bermukim di sekitar Danau Mawang, Kelurahan Mawang, Kecamatan Bontomarannu, Gowa, Sulawesi Selatan, sudah akan mulai berpuasa, Senin (8/7).
Hal ini, menurut Pimpinan An Nadzir Ustad Lukman, dari perhitungan mereka, perputaran bulan Sya'ban akan berakhir Senin sekitar pukul 14.00 Wita.
"Pergantian bulan Sya'ban masuk Ramadhan itu mulai Senin pukul 14.00 Wita, jadi kami sudah memulai puasa besok (Senin, 8/7)," ujarnya kepada media usai melaksanakan Shalat Ashar, Minggu (7/7).
Ustad Lukman juga menambahkan bahwa awal Ramadhan terhitung pada Selasa (9/7/2013), namun dari perhitungan dan tanda-tanda alam, jemaah yang identik dengan rambut gondrong bercat kuning dan pakaian serba hitam ini, Senin siang sudah masuk bulan Ramadhan, sehingga mereka menetapkan puasa pertama pada tanggal tersebut. (Yudhiarma)

Kementerian Agama RI-Kepala LAPAN : Kalender Mapan Mensyartkan 3 Hal


Foto

Jakarta (Pinmas) —- Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), T. Djamaluddin, menjelaskan bahwa suatu kalender yang mapan, mensyaratkan tiga hal, yaitu: adanya otoritas tunggal, jelasnya batas wilayah, serta adanya kriteria yang digunakan.
Penjelasan ini disampaikan oleh Djamaluddin dalam acara talkshow yang disiarkan oleh sebuah stasiun televisi swasta, Minggu malam (07/07). Talkshow itu sendiri membahas tentang persiapan sidang itsbat awal Ramadlan yang akan diselenggarakan oleh Kementerian Agama di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, pada Senin petang (08/07). Hadir dalam talkshow itu, Wakil Menteri Agama, Nasaruddin Umar, dan Anggota Lembaga Tarjih Muhammadiyah, Agus Purwanto.
“Suatu kalender yang mapan mensyaratkan 3 hal, yaitu: pertama, ada otoritas tunggal; kedua, jelas batas wilayahnya; dan ketiga, ada kriterianya,” jelas Djamaluddin.
Menurut Djamal, kalender masehi yang sekarang kita anggap mapan, dulunya pun sama, tidak mapan. Namun demikian, lanjut Djamal, kalender masehi kemudian terus berkembang di bawah sebuah otoritas tunggalnya. “Dulu otoritas tunggalnya di tangan Julias Caesar, kemudian Paus Gregorius,” terang Djamal.
Djamal menambahkan bahwa kriteria kalender masehi juga berubah. Awalnya, kriteria Julius yang satu tahun ada 365,25 hari. Jadi setiap 4 tahun, ada tahun kabisat. “Kriteria ini kemudian berubah menjadi kriteria Gregorius di mana satu tahun ada 365,2425 hari. Jadi tiap 4 tahun ada tahun kabisat kecuali dalam 400 tahun harus dihilangkan 3 tahun kabisat,” papar Djamal.
Bagaimana dengan kalender Hijriyah? Profesor bidang Astronomi dan Astrofisika LAPAN yang juga Anggota Badan Hisab-Rukyat Kementerian Agama ini menegaskan bahwa kalender hijriyah juga sama. “Kita bisa mendapatkan kalender hijriyah yang mapan, kalau 3 hal terpenuhi: pertama, adanya otoritas tunggal; kedua, jelas batas wilayahnya, dan ketiga, ada kriterianya.
Terkait hal ini, Wakil Menteri Agama (Wamenag), Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa otoritas tunggal itu ada pada Pemerintah selaku Ulil Amri. Batas wilayahnya pun jelas, yaitu wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Wamenag menegaskan bahwa dalam konteks pengamatan hilal, Indonesia tidak mengadopsi siapa-siapa, Arab Suadi, Mesir, atau negara Muslim lainnya. “Indonesia dengan Arab Saudi itu sangat jauh,” terang Wamenag.
“Bahkan Saudi Arabia pernah melarang, Indonesia tidak boleh ikut-ikutan kami karena geografis anda sangat berjauhan dengan kami. Anda berdasarkan posisi hilal anda masing-masing,” tambah Wamenag.
Namun demikian, Wamenag mengakui bahwa persoalannya memang pada kriteria yang belum disepakati. “Posisi hilal pada penentuan awal Ramadlan tahun ini sangat krusial, karena posisinya di bawah 2 derajat. Kalau pengalaman yang lalu, biasanya terjadi dua starting point di sini,” ujar Wamenag.
Wamenag menambahkan bahwa Pemerintah sesungguhnya sudah berupaya untuk mengkomodir seluruh perbedaan ini. Menurutnya, dulu kita mengikuti standar international, 6 derajat imkanur-rukyat. Dalam perkembangan selanjutnya, Indonesia kemudian menurunkannya menjadi 4 derajat agar bisa merangkul semua. “Kebijakan ini kemudian diikuti juga oleh Asia Tenggara, seperti Malaysia, Siangapura, dan lainnya,” kata Wamenag.
Negara-negara di Asia Tenggara cenderung bersepakat dengan Indonesia. Makanya, lanjut Wamenag, ketika Indonesia menurunkan kembali kriteria imkanur-rulyat menjadi 2 derajat untuk merangkul aspirasi semua pihak, negara-negara tetangga juga mengikutinya. “Dua derajat itu pun sesunggunya sunguh sangat riskan untuk diintip. Tapi itu demi mencapai persatuan pada saat itu karena itu permintaan dari ormas kita,” tambah Wamenag.
Sementara itu, Anggota Lembaga Tarjih Muhammadiyah, Agus Purwanto menjelaskan bahwa Muhammadiyah kalau dilihat dari sejarahnya juga pernah menggunakan metode rukyat. Dalam perkembangan selanjutnya, Muhammadiyah kemudian menggunakan metode hisab dengan menggunakan kriteria ijtima’ qablal ghurub. “Sepanjang konjungsi (posisi bulan di tengah antara matahari dan bumi itu berada pada satu garis astronomi) itu terjadi sebelum magrib, maka begitu masuk magrib, itu adalah tanggal baru,” terang Agus.
Agus menambahkan, sebenarnya dari sisi hisab, semuanya relatif sama. Sebab, yang mengembangkan metode hisab itu sebenarnya teman-teman astronomi juga. “Hitung-hitungannya pun sama, yang membedakan pada kriteria yang diterima yang kemudian mendefinisikan bulan baru,” terang Agus.
Mengenai perbedaan kriteria ini, Agus mengusulkan kepada Pemerintah agar juga mensosialisasikan penetapan awal Ramadlan bagi mereka yang berpegang pada metode hisab. “Tidak harus selalu menunggu hasil sidang itsbat,” harap Agus.
Terlepas dari perbedaan kriteria yang ada, Wamenag berharap proses sidang itsbat bisa berjalan dengan cepat dan lancar sehingga masyarakat tidak terlalu lama menunggu penetapan dari Pemerintah. Wamenag menegaskan bahwa kalau kita menghendaki persatuan, maka kriterianya harus ada, kemudian harus ada otoritas tunggal, dan satu lagi adalah wilayahnya. Untuk itu, Wamenag mengajak semua pihak terkait untuk hadir dalam proses sidang itsbat agar ada dialog yang konstruktif. “Biar ada dialog,” terang Wamenag.
“Shumu li ru’yati (berpuasalah kamu karena melihat hilal) itu bukan melulu hanya persoalan sains, tapi juga persoalan agama,” tutup Wamenag. (mkd

Kementerian Agama RI-MUI Canangkan Gerakan Dakwah Perbaikan Akhlak Bangsa

Jakarta (Pinmas) —- Majelis Ulama Indonesia mencanangkan Gerakan Dakwah Perbaikan Akhlak Bangsa di kantor MUI Pusat Jalan Proklamasi No. 51 Jakarta, Kamis (4/7) malam. Ketua MUI KH Ma’ruf Amin menilai ada sejumlah persoalan serius yang dihadapi bangsa Indonesia, terutama terkait kondisi akhlak bangsa dan kelemahan aktifitas dakwah.
“Kita merasa da’i kita kurang dalam arti kualitas dan kuantitas,” kata kiai Ma’ruf dalam sambutan acara yang dihadiri Menko Perekonomian Hatta Radjasa dan para pengurus MUI Pusat. Pencanangan juga ditandai pembukaan Training of Trainers para Da’i Tingkat Nasional Untuk Perbaikan Akhlak Bangsa angkatan pertama.
Kiai Ma’ruf Amin yang juga Ketua Pusat Dakwah dan Pendidikan Akhlak Bangsa MUI menjelaskan, usia peserta Training of Trainers (TOT) ini maksimal 45 tahun dan mereka sudah terbukti aktif berdakwah di daerahnya masing-masing. Berpendidikan minimal S1, serta berasal dari pengurus MUI dari seluruh wilayah.
Menurut kiai yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), mereka yang lulus ini nantinya diharapkan akan mampu mengkader di daerahnya. Sehingga kader dakwah untuk perbaikan ahlak bangsa dapat berkembang diseluruh daerah.
“Targetnya tersedia 50 ribu kader dakwah perbaikan ahlak bangsa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dan mereka akan mampu untuk memformulasikan dakwah sesuai dengan kebutuhan perbaikan keadaan yang mendesak di daerahnya,” papar kiai Ma’ruf.
Pusat Dakwah Dan Pendidikan Akhlak Bangsa bertujuan untuk membantu terwujudnya masyarakat yang kuat dalam memahami dan menjalankan ajaran-ajaran agama serta mempunyai akhlaqul karimah. Selain itu juga untuk meningkatkan dan mengefektifkan dakwah Islamiyah dan pendidikan akhlak bangsa untuk seluruh lapisan masyarakat.
Sementara Menko Perekonomian Hatta Radjasa mengatakan, para da’i selaku pendidik akhlak bangsa selain dituntut untuk berakhlak mulia, tetap harus bersikap dinamis dalam mencermati berbagai permasalahan bangsa. Hatta berharap kehadiran para da’i tersebut nantinya dapat ikut memberikan solusi atas berbagai permasalahan bangsa.
“Selain dituntut berakhlak mulia juga harus tetap dinamis mengikuti perkembangan berbagai persoalan bangsa, sehingga bisa memformulasikan dakwah yang tepat dan membantu penyelesaian masalah bangsa,” kata Hatta.
Menurut Hatta, derajat dan martabat bangsa dapat diperbaiki dengan semangat dari kesatuan nilai-nilai Islam serta nilai luhur bangsa yang terangkum dalam Pancasila. Kesatuan ini harus dipahami secara utuh oleh para da’i kita. “Akhlak bangsa jika bobrok maka dipastikan sebuah bangsa terancam menjadi bangsa yang gagal,” tandasnya. (ks)