Cari Blog Ini

Sabtu, 27 Juli 2013

Itikaf dan Lailatul Qodar 10 Hari Akhir Ramadhan


LDII - Itikaf dan Lailatul Qodar

Pada masa kenabian Bani Israil ada 4 orang alim yang selama hidupnya 80 tahun beribadah kepada Allah tanpa berbuat kesalahan sedikitpun. Meraka adalah Ayub, Zakaria, Hizkil bin A’juz dan Yusak bin Nun. Kabar tersebut mengherankan sekaligus membuat iri umat Islam dan para sahabat pada masa Nabi Muhammad s.a.w..
Kemudian Allah mengutus Malaikat Jibril untuk mengabarkan bahwa Allah menurunkan yang lebih baik dari itu yaitu Malam Qodar. Beribadah satu malam saat turunnya Lailatul Qodar pahalanya lebih baik dari pada beribadah selama seribu bulan atau 80 tahun penuh. Menurut petunjuk Rasulullah s.a.w. Malam Qodar jatuh di dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan.
1766 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ، عَنْ هِشَامٍ الدَّسْتُوَائِيِّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ: اعْتَكَفْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَشْرَ الْأَوْسَطَ مِنْ رَمَضَانَ، فَقَالَ: «إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَأُنْسِيتُهَا، فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، فِي الْوَتْرِ»
__________
[حكم الألباني] صحيح
… dari Abi Said Al-Hudri, berkata: Saya itikaf bersama Rasulillahi SAW sepuluh hari yang tengah dari bulan Ramadan maka Nabi bersabda,”Sesungguhnya saya diperlihatkan pada malam Qodr maka saya dilalaikan (oleh Allah) tentang Lailatul Qodr tersebut. Maka carilah Lailatul Qodr itu dalam sepuluh hari terakhir yang ganjil”.
[Hadist Ibnu Majah no. 1766 Kitabushiam]
Ramadan benar-benar bulan yang penuh rahmat dan barokah. Pada sepuluh hari terakhir Allah membuka lebar pintu pahala dan pengampunan. Selain turunnya Lailatul Qodar sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah waktu untuk Itikaf. Itikaf adalah berdiam diri di dalam Masjid, dengan merenung, ta’arub (mendekat), beribadah, berzikir dan mohon ampunan kepada Allah.
Salah satu ketentuan ibadah iktikaf adalah tidak keluar dari masjid atau masuk rumah kecuali hanya untuk keperluan buang hajat. Juga tidak boleh masuk rumah menjimak istri selama melaksanakan itikaf.
1770 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ: «يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ، فَسَافَرَ عَامًا، فَلَمَّا كَانَ مِنَ الْعَامِ الْمُقْبِلِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا»
__________
[حكم الألباني] صحيح
… dari Abiyin bin Ka’bin sesungguhnya Nabi s.a.w. itikaf sepuluh hari akhir dari bulan Ramadhan. Maka pada tahun perjalanan (10 Hijriyah). Ketika pada tahun beliau (Nabi) diwafatkan, Nabi itikaf dua puluh hari.
[Hadist Ibnu Majah no. 1770 Kitabushiam]

… وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ …
… janganlah kamu pergauli istri-istrimu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya….
[Surah Al-Baqarah ayat 187]

1776 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ قَالَ: أَنْبَأَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، وَعَمْرَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّ عَائِشَةَ، قَالَتْ: إِنْ كُنْتُ لَأَدْخُلُ الْبَيْتَ لِلْحَاجَةِ، وَالْمَرِيضُ فِيهِ، فَمَا أَسْأَلُ عَنْهُ إِلَّا وَأَنَا مَارَّةٌ، قَالَتْ: وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، «لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةٍ إِذَا كَانُوا مُعْتَكِفِينَ»
__________
[حكم الألباني] صحيح
… sesungguhnya Aisah meriwayatkan: Bahwa ada saya masuk rumah untuk keperluan, dan di dalam rumah ada orang sakit, maka saya tidak bertanya dari orang sakit kecuali saya hanya lewat: dan ada Rasulillah s.a.w. tidak masuk rumah kecuali karena hajatnya ketika beliau itikaf.
[Hadist Ibnu Majah no. 1776 Kitabushiam]

19426 – أَخْبَرَنَا يُونُسُ، أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، حَدَّثَنِي مَسْلَمَةُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ عُرْوَةَ قَالَ: ذَكَرَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا أَرْبَعَةً مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَبَدُوا اللَّهَ ثَمَانِينَ عَامًا، لَمْ يَعْصَوْهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ فَذَكَرَ أَيُّوبَ وَزَكَرِيَّا وَحِزْقِيلَ بْنَ الْعَجُوزِ وَيُوشَعَ بْنَ نُونٍ قَالَ: فَعَجِبَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ ذَلِكَ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ عَجِبَتْ أُمَّتُكَ مِنْ عِبَادَةِ هَؤُلاءِ النَّفَرِ ثَمَانِينَ سَنَةً لَمْ يَعْصَوْهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ، فَقَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْ ذَلِكَ. فَقَرَأَ عَلَيْهِ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ هَذَا أَفْضَلُ مِمَّا عَجِبْتَ أَنْتَ وَأُمَّتُكَ: فَسُرَّ بِذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ مَعَهُ «3» .
… dari Ali bin Urwah mengatakan: Rasulullah SAW bercerita suatu masa ada empat orang Bani Isroil beribadah kepada Allah delapan puluh tahun tidak pernah melanggar pada Allah sekejab matapun (Rasulullah SAW) menyebutkan mereka adalah Ayub, Zakaria, Hizkil bin A’juz dan Yusak bin Nun. Ali mengatakan maka para sahabat Rasululllah SAW takjub terhadap mereka.
Maka Jibril datang pada Nabi dan berkata,”Wahai Muhammad umatmu terheran-heran terhadap mereka, beribadah selama delapan puluh tahun tanpa berbuat dosa sekejap matapun. Maka sesungguh Allah menurunkan yang lebih baik daripada demikian itu. Maka Jibril membacakan pada Nabi;
” إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُالْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ”
“Sesungguhnya Aku (Allah) menurunkan berita ini dalam malam Qodr. Apakah yang engkau ketahui tentang Malam Qodr? Lailatul Qodr lebih baik dari seribu bulan”.
Ini lebih utama daripada apa-apa yang engkau dan umatmu herankan. Maka bergembiralah dengan kabar ini, Rasulullah dan para manusia besertanya.
[Hadist Riwayat Abi Hatim No. 19426]
Doa ‘Itikaf
3513 – حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ الضُّبَعِيُّ، عَنْ كَهْمَسِ بْنِ الحَسَنِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ القَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ: ” قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي “. هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
__________
[حكم الألباني] : صحيح
… dari ‘Aisah, bercerita, saya bertanya,”Wahai Rasulallah sudikah kiranya engkau mengajari saya bila saya menjumpai malam lailatul Qodr doa apa yang saya ucapkan waktu itu?” Nabi menjawab, berdoalah:“اَللهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ” (Ya Allah, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dan Maha Mulya, Engkau senang terhadap orang yang minta pengampunan, maka ampunilah saya)

[Hadist Sunan Termizi No. 3513 Abwabul Da'awat]

Kesombongan Ilbis

Kesombongan Iblis

Menurut pengertian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sombong adalah salah satu sifat yang membanggakan diri sendiri, congkak, pongah. Sifat seperti ini sangat merugikan dirinya sendiri. Agama Islam sangat melarang kepada umatnya untuk berbuat sombong. Tidak akan masuk surga orang yang apabila dalam dirinya masih bersemayam sifat sombong. Sombong sendiri adalah “roddun haqq waghomtunnaas”, yaitu menolak kebenaran dan meremehkan terhadap manusia. Sebagai seorang manusia, makhluk Alloh sangat tidak pantas mempunyai sifat sombong. Apalagi seorang manusia yang penuh dengan kelemahan, keterbatasan dan kekurangan. Seumpama mempunyai sesuatu kelebihan dan keutamaan terhadap yang lain semestinya digunakan untuk meningkatkan derajat dan takwa kepada Alloh SWT. Karena hanya Alloh SWT yang berhak mempunyai sifat sombong, karena sesungguhnya Dia Yang Maha segalanya, “Al Mutakabbiru”.

Kesombongan yang dilakukan oleh seorang makhluk berakibat fatal, perbuatan tercela dan dimukai oleh Alloh SWT. Di dalam Al Qur’an dijelaskan tentang sifat Iblis dengan kesombongannya, meremehkan kepada nabi Adam alaihi salam dihadapan Alloh SWT. Ketika Alloh SWT telah menciptakan nabi Adam alaihi salam dari campuran berbagai macam jenis tanah dan disempurnakan wujud bentuknya sebagai manusia pertama. Setelah diberi ruh, Alloh SWT memerintahkan kepada seluruh para Malaikat, “Wahai para Malaikat, Aku telah menciptakan manusia dari campuran tanah (Adam), maka sujudlah kalian kepadanya!”. Maka dengan seketika seluruh Malaikat melakukan sujud (sebagai penghormatan) kepada nabi Adam atas perintah Alloh SWT, kecuali Iblis yang tidak mau sujud. Dengan sombongnya Iblis menolak perintah Alloh SWT disaksikan oleh para Malaikat tidak mau sujud kepada nabi Adam alaihi salam. Sehingga Alloh SWT bertanya kepada Iblis, “Hai Iblis, apa yang menyebabkan kamu tidak sujud kepada Adam bersama-sama dengan para Malaikat?”. Dengan congkak dan sombongnya, melupakan terhadap siapa yang perintah maka Iblis menjawab, “Apakah saya harus sujud kepada (menghormat) kepada manusia yang telah Engkau ciptakan dari tanah? Saya lebih baik dari Adam, Engkau ciptakan ssaya dari api sedangkan Adam Engkau ciptakan dari tanah”.

Subhanalloh, kesombongan Iblis dihadapan Alloh SWT dan para Malaikat menutup kebenaran yang ada. Para Malaikat yang diciptakan dari cahaya, dan jelas lebiha baik daripada api (Iblis) tidak ada yang sombong dan semuanya tunduk, patuh dan taat terhadap perintah Alloh SWT yaitu untuk sujud hormat kepada nabi Adam alaihi salam. Kesombongan Iblis melupakan terhadap siapa yang telah perintah yaitu Sang Kholik yang telah menciptakannya sendiri. Akibat perbuatannya tersebut, Iblis dilaknat oleh Alloh SWT dan dikeluarkan dari golongan para Malaikat yang mulia di surga. Alih-alih menyadari kesalahan akan kesombongan dan memperbaiki perbuatannya untuk segera tobat kepada Alloh SWT, ternyata kesombongan Iblis semakin menjadi-jadi. Iblis putus asa, bahkan melakukan sumpah dan janji di hadapan Alloh SWT dengan sumpah maksiat, yaitu akan selalu menggoda dan menjerumuskan seluruh umat manusia kepada jalan kesesatan dan kemaksiatan. Hanya orang-orang yang sholih dan selalu memurnikan ibadah kepada Alloh tidak terpedaya oleh tipu daya Iblis. Iblis dengan anak turunnya (jin dan syetan) akan selalu menggoda dan menjerumuskan kepada umat manusia menuju kemaksiatan.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ (28) فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ (29) فَسَجَدَ الْمَلائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ (30) إِلا إِبْلِيسَ أَبَى أَنْ يَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ (31) قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا لَكَ أَلا تَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ (32) قَالَ لَمْ أَكُنْ لأسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ (33) قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ (34) وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ (35) قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (36) قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (37) إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ (38 قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (39) إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (40) قَالَ هَذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ (41) إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ (42)
Artinya :

28. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, 29. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud, 30. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, 31. kecuali iblis. Ia enggan ikut besama-sama (malaikat) yang sujud itu. 32. Allah berfirman: "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?" 33. Berkata Iblis: "Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk" 34. Allah berfirman: "Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, 35. dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat." 36. Berkata iblis: "Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan, 37. Allah berfirman: "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, 38. sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan, 39. Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, 40. kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka." 41. Allah berfirman: "Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya) 42. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (Al Qur’an surat Al Hijr ayat 28 – 42)

Rabu, 17 Juli 2013

Menekan Egoisme, Meningkatkan Kesalehan Sosial


Ketua Umum LDII memberikan sambutan pada acara buka bersama

DPD LDII Kota Bogor melaksanakan buka bersama dan penyerahan santunan kepada seribu anak yatim, pada 15 Juli 2013. Acara ini dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, Drs H Saeroji, MM, mewakili Menteri Agama Dr. H. Suryadharma Ali, M.Si.
Acara yang dihelat DPD LDII Kota Bogor ini dihelat di Pondok Pesantren Nurul Iman, di bilangan Budi Agung Kota Bogor. Perhelatan yang bertepatan dengan Ramadan, bagi LDII, adalah salah satu amal saleh atau program kerja LDII, “Puasa adalah momentum setiap umat Islam untuk meningkatkan amal ibadah,” papar Ketua DPD LDII Kota Bogor Dr Radjab Tampubolon.

Menurut Radjab Tampubolon, LDII dari tingkat DPP hingga PAC memiliki program kerja lima roda berputar, di antaranya yang mampu membantu yang lemah, dan yang kaya membantu yang miskin. Program kerja ini dilaksanakan dalam bentuk pemberdayaan ekonomi umat, berupa koperasi dan usaha lainnya. Keuntungan dari berbagai usaha ini, selain diperuntukkan bagi para anggotanya, disumbangkan pula ke berbagai panti asuhan, panti jompo, dan korban bencana alam, sebagai bentuk kepedulian sosial dan pendistribusian kesejahteraan. 

Menteri Agama Suryadharma Ali yang sambutannya dibacakan Kakanwil Kementerian Agama Jawa Barat, Saeroji, menyebut apa yang dilaksanakan LDII adalah bentuk kepekaan dan kepedulian sosial, “Menyantuni anak yatim adalah bentuk rasa syukur atau membayar anugerah dan nikmat yang diberikan Allah SWT,” papar Suryadharma Ali. 

Suryadharma Ali meyakini, proses distribusi kesejahteraan dalam Islam terjadi melalui sedekah. Kebaikan yang diberikan oleh orang lain, tak harus dibayar kepada orang tersebut. Namun bisa diberikan kepada orang lain, agar kebahagiaan itu bisa dirasakan oleh orang lain. 

Suryadharma Ali menyambut baik dan menyatakan terimakasih kepada jajaran pengurus DPP LDII dan keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Iman Kota Bogor yang telah melaksanakan acara “Penyerahan Santunan dan Buka Bersama Seribu Anak Yatim dan Dhuafa”. Menurut Suryadharma Ali, pertama, acara ini berkesesuaian dengan program pemerintah: Indonesia Ramah Anak. Dengan demikian acara seperti ini dapat diharapkan anak-anak bangsa dapat berkembang menjadi generasi emas bangsa yang beriman, jujur, cerdas, sehat, berakhlaq mulia, dan berprestasi. 

Kedua, acara ini memperteguh eksistensi dan peran strategis organisasi sosial kemasyarakatan dan pesantren dalam mewujudkan kesejahteraan umat. Dalam hal ini ormas Islam dan pesantren berfungsi sebagai agen pemberdayaan ekonomi umat. Pemberdayaan ekonomi umat ini menjadi semacam pelengkap pendidikan agama.  Karena umumnya pesantren tumbuh dan berkembang di pedesaan, yang umumnya adalah kantong kemiskinan. “Dengan demikian LDII konsisten sebagai ormas yang memberdayakan ekonomi,” ujar Suryadharma Ali. 

Suryadharma Ali menekankan pada hakikatnya mewujudkan kesalehan individu dan juga kesalehan sosial. Puasa bukan hanya ibadah yang egoistik dan individualistik, namun menyeimbangkan kesalehan individu dan kesalehan sosial, sebagai muttaqin sejati.
Wakil walikota bogor dan Kakanwil Kemenag saat acara buka bersama LDII di Bogor
Senada dengan Suryadharma Ali, Ketua Umum DPP LDII Prof Dr KH Abdullah Syam, Msc, bulan Ramadan adalah puncak kesalehan setiap umat Islam. Menurut Abdullah Syam, dalam kesehariannya LDII telah melaksanakan program kerjanya, dalam memberdayakan ekonomi umat. LDII mendorong agar perputaran ekonomi dapat bergerak dengan sedekah, infaq, dan zakat. Maka, Ramadan ini adalah momentum berbagi sesam umat Islam.

Acara buka bersama ini, juga merupakan perhelatan peresmian Pesantren Nurul Iman. Salah satu pesantren di bawah naungan LDII yang, menghasilkan para juru dakwah yang memiliki kemampuan mumpuni di bidang tafsir Alquran dan Alhadits. Para santri dari pesantren ini telah mengkhatamkan kitab kutubushitah, sebagai bekal mengajarkan agama dan dakwah di tengah-tengah umat.

Selasa, 16 Juli 2013

Peduli Kaum Dhuafa, Menteri Agama Puji LDII


suryadharma


JAKARTA - Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali memberikan apresiasi  kepada Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Pasalnya, ormas Islam tersebut peduli terhadap kaum dhuafa dan anak yatim.
"Saya mengapresiasi setinggi-tingginya ormas Islam seperti LDII yang telah berkontribusi besar dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut mendorong terwujudnya kesejahteraan sosial melalui dakwah Islamiyah yang dilakukan," kata Suryadharma dalam keterangannya, Senin (15/7/2013).

Menag yang turut dalam kegiatan buka puasa bersama dan santunan 1000 anak yatim dan dhuafa di Ponpes Nurul Iman Budi Agung, Kota Bogor ini menambahkan, aksi sosial yang dilakukan LDII tersebut semakin meneguhkan eksistensi dan peran strategis ormas Islam dan Ponpes dalam mewujudkan kesejahteraan umat. 

Sementara itu,  Ketua Umum LDII Abdullah Syam, menambahkan, keberadaan Ponpes LDII selain untuk mencetak da'i yang handal juga memberikan fungsi sosial. Dalam ponpes tersebut akan tersedia klinik untuk melayani para santri yang berjumlah 250 orang dan juga untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat sekitar ponpes.  

"Pada Ramadan 2013, kita akan menggelar aksi sosial di Aceh dan mengingatkan masyarakat tentang pentingnya lima sukses Ramadan, yaitu sukses puasa, tarawih, tadarus, Lailatul Qadar dan sukses zakat fitrahnya," urainya.

Selain itu, LDII juga akan mengimbau masjid dan Ponpes LDII untuk selalu memberikan takjil bagi jamaah yang akan berbuka puasa. "Kami juga akan menginstruksikan masjid dan ponpes LDII untuk memberikan takjil bagi musafir," pungkasnya. (put)
(Sumber Okezone.com)