Cari Blog Ini

Rabu, 26 Februari 2014

Menyelamatkan Ekonomi Bangsa dengan Sistem Ekonomi Syariah


ldii-ekonomi-syariah
LDII meyakini prinsip kehati-hatian dalam ekonomi syariah adalah penyelamat dari krisis. Sebab pada dasarnya kegiatan ekonomi yang dibiarkan tak terkendali, akibat keserakahan mampu menciptakan krisis yang menyebabkan penderitaan yang luas dan dalam jangka waktu yang panjang.

Melihat krisis Amerika Serikat lalu Eropa sejak 2008, merupakan gambaran nyata bagaimana kegiatan ekonomi yang riba, membuat utang sebagai jaminan, permainan valas, dll mengakibatkan dunia masuk dalam belenggu hutang luar negeri lebih dalam.
“Prinsip kehati-hatian dalam ekonomi syariah dimulai dengan hal-hal yang kecil, misalnya transaksi harus melibatkan barang secara konkrit. Terdapat larangan menjaminkan utang untuk memperoleh utang. Inilah yang membuat usaha dan perbankan dengan sistem ekonomi syariah selalu selamat dari ancaman krisis maupun kerugian yang besar,” ujar Ketua DPP LDII yang juga Wakil Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Sulsel Hidayat Nahwi Rasul.
LDII bahkan telah mengembangkan sistem pembiayaan dan kredit secara syariah sejak 1990-an. Tak kurang 10 Baitul Mal Watanwil yang dikelola warga LDII, menjadi tulang punggung pembiayaan UKM di kota-kota tempat mereka beroperasi. Momentum untuk berbagi keberkahan ekonomi syariah ini, kembali didengungkan LDII dalam acara Seminar Nasional Ekonomi Syariah: "Pengembangan Ekonomi Syariah Menghadapi ASEAN Economic Community", sebagai rangkaian kegiatan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) LDII pada April mendatang.
Acara yang dihelat di Makassar, Sulawesi Selatan pada 22-24 Februari itu didahului dengan gerakan menabung di perbankan syariah. Acara ini diprakarsai oleh MUI Sulsel, LDII, dan MES. Gerakan yang dinamai  Gerakan Menabung Syariah (Gemesy) itu diresmikan di Training Center Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin itu, mampu menarik nasabah baru dengan tabungan senilai Rp 700 juta. Targetnya, mampu menghimpun 33 ribu nasabah baru dengan setoran Rp 4 milliar.
ldii-seminar-ekonomi-syaria
“Asumsinya dengan warga LDII sekitar 33 ribu orang menyumbang Rp 33 miliar dengan setoran Rp 100 ribu per orang, dan Rp 700 juta dari kalangan luar. Jadi totalnya Rp 4 miliar,” Ketua DPW Sulsel Profesor Haryanto. Kendala gerakan ini, menurut Haryanto adalah masih minimnya cabang-cabang perbankan syariah di seluruh Sulsel. Meskipun menghadapi kendala, Haryanto menegaskan, Gemesy harus mampu menumbuhkan kesadaran untuk melaksanakan kegiatan ekonomi dan pembiayaan berdasarkan syariah.
"Kami menginginkan sistem perekonomian yang berbasis sosial dan memihak ke semua pihak dengan sistem syariah. Langkah awal dengan mengadakan seminar ini. Didalamnya akan dibahas mengenai konsep ekonomi syariah," ujar Haryanto.
Hidayat Nahwi Rasul menegaskan dengan Gemesy, masyarakat semakin sadar mengenai prinsip kehati-hatian dalam melakukan kegiatan ekonomi. Dengan demikian, meskipun setiap usaha memiliki risiko, dengan ekonomi berbasis syariah, kerugian dapat ditekan seminimal mungkin. “Kami berharap langkah LDII ini diikuti oleh komunitas-komunitas lain untuk perbaikan ekonomi, baik pertumbuhan, pemerataan, dan mengurangi kesenjangan ekonomi," ujarnya.
Hidayat meyakini ekonomi syariah bisa mempercepat akselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dibandingkan ekonomi kapitalisme liberal, yang cenderung menguntungkan diri sendiri, mendorong terciptanya kesenjangan sosial di berbagai belahan dunia.
Sistem bagi hasil yang diterapkan bank syariah akan saling menguntungkan sehingga tidak mengenal rugi karena akan dibagi merata. "Gerakan ekonomi syariah merupakan contoh ekonomi kerakyatan yang mendorong kemakmuran bersama dan tidak menimbulkan kesenjangan antara miskin dan kaya," ujarnya. Ketua Gerakan Menabung Syariah (Gemesy), H Ishak Andi Ballado, mengatakan, gerakan menabung syariah untuk menyadarkan masyarakat agar kembali beraktivitas secara syariah.

"Semua bank syariah akan kami libatkan, potensi bisa mencapai Rp 4 miliar setiap bulan jika para anggota LDII mengajak keluarganya. Dan pengusaha ikut bergabung," ujar Ishak. Pengamat Ekonomi Syariah dari LDII sekaligus ekonom Universitas Hasanuddin, Dr Sanusi Fattah, mengatakan, ekonomi syariah merupakan sistem yang telah lama hilang. Saat ini harus digelorakan karena sudah lama tidak pernah dikaji. "Sistem syariah penting karena dalam kegiatan ekonomi tujuannya untuk meningkatkan pendapatan, pemerataan, kesempatan kerja, dan mengurangi tingkat kemiskinan," jelasnya.

Sanusi mengatakan, setiap seminar ekonomi syariah, panitia seharusnya langsung mengarahkan peserta untuk mempersiapkan data-data untuk pembukaan tabungan. "Potensi ini harus dimanfaatkan untuk membangkitkan gerakan menabung syariah. Sulsel merupakan penggagas sistem ini," tutupnya. Keinginan LDII menghimpun dana masyarakat patut diacungi jempol. Dengan adanya program tersebut diharapkan mampu mendongkrak kinerja perbankan syariah khususnya dalam hal penarikan dana dari masyarakat.

Kabar bagus lainnya datang dari data Bank Indonesia (BI), bahwa Dana Pihak Ketiga (DPK) bank syariah mengalami pertumbuhan 39,50%. Pada 2013 realisasi DPK mencapai Rp 2,8 triliun atau mengalami peningkatan dibandingkan 2012 yang mencapai Rp2,06 triliun. Inilah nikmatnya prinsip kehati-hatian, negara maju dan masyarakat makmur. (LINES/LC/Foto: Ilmadin Husain)
(http://ldii.or.id/)

Senin, 24 Februari 2014

KETIKA ISTRI MENGELUH


KETIKA ISTRI MENGELUH
(Kisah Inspiratif - 24)
Oleh: Rikhie Supriyadi
Seorang istri membuat pengakuan mengejutkan kepada suaminya, bahwa ternyata sebagai istri dia tidak merasa bahagia. Si suami pun dengan sabar mendengarkan keluhan si istri.


“Istri tetangga tiap sebentar ganti baju baru, sedangkan pakaianku itu-itu saja dan sudah lusuh semua. Temanku punya sepatu yang selalu berganti setiap hari kerja, sedangkan sepatuku ketinggalan mode dan hanya satu-satunya,” keluh si istri.


Tak mau berhenti, dia melanjutkan keluhan lagi, “Harusnya kita punya tiga panci, jika cuma punya satu susah sekali memasak!”
Lain waktu, dia berkeluh kesah kembali, “Tidak mungkin lagi kita mengandalkan sepeda motor tua. Anak kita sudah dua, susah kalau pergi ke mana-mana. Sudah saatnya kita punya mobil!”

Berikutnya keluhan lain juga muncul, “Capek mengurusi dua anak, sudah waktunya rumah ini memiliki pembantu.”


Akhirnya si suami menanggapi, “Baiklah, aku akan mengabulkan semua keinginanmu. Kita akan membeli baju dan sepatu baru. Peralatan memasak juga akan ditambah. Pembantu akan didatangkan menggantikan kesibukanmu. Kita pun akan pergi ke showroom mobil untuk memilih yang paling kita sukai.”

Istrinya pun kaget, “Kok, langsung semuanya dikabulkan? Uangnya dari mana?”


Si suami menjawab, “Tak usah dipikirkan uangnya, itu urusanku. Penuhi saja satu syarat, niscaya semua keinginanmu akan diwujudkan.”
“Boleh, sebutkan saja syarat itu. Tapi jika syaratnya kau ingin menikah lagi, aku tidak mau!” tukas istrinya sewot.


“Syaratnya, cobalah kau ingat satu per satu nikmat yang telah diberikan Allah dan syukurilah nikmat itu,” ujar suaminya seraya tersenyum.
Sesuai dengan kesepakatan, si istri pun mulai menghitung nikmat Allah satu per satu lalu mensyukurinya. Ternyata dia menemukan banyak keajaiban:


▪Saat anak-anaknya tidur, dipandanginya wajah bocah-bocah cilik itu. Rasa haru menyelusup ke rongga hatinya, dia menyadari betapa besar makna kehadiran mereka. Anak-anak itu yang membuat hidupnya sebagai ibu menjadi teramat indah dan penuh warna. Dia bersyukur mendapatkan buah hati yang sangat lucu, ketika para sahabatnya masih terus kesepian tanpa anak di rumah megahnya.

▪Dialihkannya pandangan ke arah sang suami yang juga terlelap. Pria itu teramat baik, sabar, dan tegar. Tidak ada keluhan yang disampaikannya selama berumah tangga. Wanita itu bersyukur karena lebih beruntung dibandingkan dengan istri lain yang menjadi sasaran kekerasan suami mereka. Bahkan di antara teman-temannya masih banyak yang melajang di usia senja.

▪Dibukanya lemari pakaian. Di sana berjajar beberapa pakaian yang dibelikan suaminya dengan uang hasil kerja kerasnya. Wanita itu ingat betapa sabar si suami mendampinginya seharian di pasar untuk memilihkan pakaian yang terbaik baginya. Dia bersyukur pakaiannya masih lebih baik daripada busana temannya yang betul-betul tak punya pilihan.

▪Kaki pun dilangkahkannya ke arah dapur. Di sana perabotan tersusun rapi, meski bukan barang mahal, tapi cukup lengkap. Dia bersyukur sampai detik ini anak-anak dan suaminya tidak suka makan atau jajan di luar. Seluruh anggota keluarga menyukai masakannya. Kalau teringat itu, semangat hidupnya jadi menyala-nyala, hilang semua rasa capeknya selama ini. Dia pun tak mau kasih sayang keluarga beralih kepada pembantu.

▪Di dapur pula dia mendapati sepeda motor, kendaraan kebanggaan mereka sekeluarga. Sepeda motor itu baru saja lunas kreditnya, setelah cukup lama dicicil suaminya. Kendaraan itu diperoleh dengan uang halal sehingga terasa nikmat saat memakainya. Dia bersyukur tak ada rasa waswas ketika mengendarainya, tidak seperti tetangga yang mobilnya ikut disita aparat karena diperoleh dengan korupsi.

Esok harinya dia menemui suaminya. Dia tak merasa perlu dibelikan semua benda yang dituntutnya tempo hari. Cukup membeli yang betul-betul penting dan dibutuhkan saja. Mengapa? Karena dia telah menemukan kebahagiaan itu ada dalam rasa syukur. Kebahagiaan telah terhampar di dalam keluarga sederhananya. Istri itu tak mau kehilangan kebahagiaan yang tengah dinikmatinya hanya karena terlalu banyak menuntut.

Sahabat, Kebahagiaan tidak bisa kita dapatkan dengan banyak menuntut, melainkan dengan mengurangi tuntutan. Kebahagiaan juga tidak identik dengan banyaknya harta benda, kendati banyaknya kekayaan juga salah satu faktor kebahagiaan, tetapi keberadaan Keluarga yang saling menghargai penuh kasih sayang jauh lebih membahagiakan dari yang lainnya. Kebahagiaan tidak kita capai dengan mewujudkan semua keinginan, tetapi dengan menikmati dan mensyukuri apa yang sudah kita miliki.


Rasulullah Saw bersabda. : “Barang siapa beriman kepada Allah Swt dan Hari Akhir, hendaklah ia tidak menganggu tetangganya. Jagalah pesanku tentang kaum Wanita agar mereka diperlakukan dengan baik. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Jika engkau berusaha untuk meluruskannya, tulang itu akan patah. Jika engkau membiarkannya, tulang itu tetap bengkok. Oleh karena itu, jagalah pesanku tentang kaum perempuan agar mereka diperlakukan baik "(HR. Al Bukhari dan Muslim)

Din Syamsuddin, Semangat Baru Untuk MUI


Din Syamsuddin, Semangat Baru untuk MUI

Prof. Dr. K.H. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, atau yang akrab dikenal dengan Din Syamsuddin pada Selasa (18/2) resmi terpilih menjadi Ketua Umum Majelais Ulama Indonesia (MUI) yang baru menggantikan KH Sahal Mahfudz yang telah meninggal dunia Jumat 24 januari 2014 lalu. Dalam konfirmasinya, Saleh Daulay, Ketua MUI Pusat Bidang Luar Negeri, pergantian tersebut mengacu pada AD/ART MUI yang berbunyi “Bila Ketua Umum berhalangan atau meninggal dunia, maka yang bisa menggantikan adalah wakil ketua umum,” jelasnya.
Daulay juga menambahkan dalam rapat tersebut juga tepilih nama KH Ma’ruf Amin sebagai Wakil Ketua Umum MUI mendampingi Din Syamsudin. Menurutnya Din Syamsudin merupakan tokoh yang tepat menempati posisi tersebut. Dengan pengalamannya selama di MUI dan kemampuannya, Daulay meyakini Din Syamsudin dapat memegang amanah ini dengan baik.  
Din mengaku keberadaanya di MUI juga merupakan dukungan dan ajakan almarhum KH Sahal. Mulanya Din lebih fokus kepada Muhammadiyah dan tidak begitu memperhatikan MUI. Akan tetapi pada 2010 lalu dirinya mengaku diminta secara pribadi untuk mendampingi KH Sahal menjadi wakilnya. Din beranggapan ajakan ini merupakan sebuah upaya untuk menyatukan Muhammadiyah dan Nadhatul Ulama.
Din yang lahir di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, 31 Agustus 1958 beristrikan Fira Beranata. Dari perkawinannya, ia memiliki tiga orang anak. Ia sempat menempuh pendidikan sarjana di IAIN Jakarta, dan kemudian melanjutkan pascasarjana pada Program Interdepartmental in Islamic Studies. Ia melanjutkan S3 dengan bidang yang sama di University of California, Los Angeles (UCLA) di Amerika Serikat.
Din sempat menjabat sebagai Direktur Jenderal Binapenta Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia. Pengalaman organisasi Din pun cukup beragam, sebagai Ketua DPP Sementara Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (1985), Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah (1989-1993), Wakil Ketua PP Muhammadiyah (2000-2005), Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), hingga Ketua Litbang Golongan Karya.
Tidak hanya di keorganisasian, Din juga aktif menjadi akademisi di berbagai universitas seperti UMJ, Uhamka, UI serta menjadi guru besar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Din Syamsuddin juga dipandang sebagai sosok pemimpin umat Islam bukan hanya karena kemampuan intelektualnya, akan tetapi juga karena kemampuannya untuk melakukan dialog dengan seluruh elemen umat beragama baik antar sesama umat Islam, maupun dengan umat beragama lainnya. Menjabat sebagai Chairman of World Peace Forum, President of Asia Committe on Religions for Peace, serta Honorary President of World Conference on Religions for Peace adalah sederat panjang perjuangannya mengangkat citra Islam di ranah global.
Pada ceramah umumnya di Vatican yang mengangkat tentang terorisme dalam konteks politik dan ideologi, Din memandang bahwa terorisme lebih relevan bila dikaitkan dengan isu politik dibandingkan dengan isu ideologi. Dirinya tidak senang bila sebagian kelompok umat Islam menggunakan Islam ketika melakukan aksi kekerasan, karena justru mencoreng citra Islam.
Ketua Umum LDII, Prof. DR. Ir. KH. Abdullah Syam, M.Sc, Pengurus DPP LDII, serta seluruh warga LDII mengucapkan selamat atas terpilihnya Prof. Dr. K.H. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin sebagai Ketua Umum MUI yang baru. Semoga Din dapat menjalankan amanah ini dengan baik. LDII membuka pintu kerjasama dengan MUI selebar-lebarnya. Semoga MUI dan LDII bisa bekerja sama dan berdakwah, untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik.
(http://ldii.or.id/)

Senin, 17 Februari 2014

LDII Kediri Buka 4 Posko Penampungan Kelud

posko-kelud-ldii
Jawa Timur-Bencana letusan Gunung Kelud, Jawa Timur (13/2) 23.00 malam hari menggemparkan warga di Kabupaten Kediri, Malang, dan Blitar. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan status awas hingga Sabtu (15/2) hingga beberapa hari ke depan. Ketua DPP LDII sekaligus Ketua DPW LDII Jawa Timur Ir Chriswanto Santoso, Msc, melakukan peninjauan langsung dampak gempa bagi masyarakat.
Chriswanto memastikan bahwa pos-pos yang berada di pesantren yang dikelola warga LDII siap membantu para pengungsi, “Dari empat posko, Pesantren Babussalam adalah pesantren resmi yang ditunjuk Pemerintah Kabupaten Kediri,” ujar Chriswanto Santoso.
Dari pengamatan Chriswanto, kebutuhan makanan untuk pengungsi tercukupi baik fdari bantuan warga LDII maupun dari pemerintah. “Persoalan utama adalah air bersih dan MCK,” papar Chriswanto, yang ditemui di lokasi pengungsian Pesantren Babussalam. Pelayanan medis menurut Chriswanto terkendala, minimnya jumlah relawan yang harus menangani ribuan pengungsi.   
DPP LDII bekerja sama dengan DPD LDII Kediri membuka 4 posko pengungsian di regional Kediri. Posko 1 terletak di Pondok Pesantren Babussalam, Desa Siman, Kecamatanamatan Kepung dengan jumlah pengungsi yang terdata mencapai 3.901 jiwa serta 300 tambahan pengungsi dari SD Berumbung. Posko 2 terletak di Masjid Nurul Izzah, Desa Kepung Tengah, Kecamatanamatan Kepung dengan pengungsi sebanyak 25 jiwa.
Posko 3 terletak di Masjid LDII Desa Gadungan, Kecamatan Wates dengan pengungsi sebanyak 411 jiwa. Posko 4 terletak Masjid Baitil Karim, Desa Sidomulya, Kecamatanamatan Puncu dengan pengungsi sebanyak 180 jiwa. Keempat posko pengungsian tersebut terletak di daerah sebelah Selatan dan Timur dari Gunung Kelud sehingga tidak terkena dampak letusan begitu besar sebesar di barat.
posko-pengungsian-kelud
Selain bantuan dari DPP LDII dan DPW LDII Jawa Timur beberapa bantuan telah berdatangan dari pemerintah dan TNI. Sebagai bentuk kepedulian antara umat beragama para suster dari Gereja Santa Maria, Tulungagung juga membantu LDII Posko 3 dalam penyediaan makanan. Meskipun sudah banyak bantuan yang berdatangan akan tetapi menurut Setya, Posko 1, Ponpes Babussalam mengaku pihaknya kekurangan air bersih karena air tanah di lokasi setempat tercemar abu letusan Kelud.
Pada Posko 2, Masjid Nurul Izzah, yang didominasi oleh anak-anak ini menurut penanggung jawabnya, Abdul Kawab menyatakan membutuhkan banyak popok, bubur, dan susu bayi. Sedangkan pada Posko Desa Gadungan menyatakan pihaknya masih membutuhkan bantuan berupa alas tidur, selimut, dan masker, papar Syai’in saat diwawancara Lines.
Akibat letusan Kelud dua hari terakhir, para pengungsi Ponpes Babussalam mulai ada yang terserang penyakit pernafasan dan mata. Tercatat 50 orang lebih di pengungsian tersebut terkena berbagai penyakit pascamengungsi.
Kekurangan masker dan debu yang menumpuk di lokasi menjadi penyebab utama penurunan kesehatan para pengungsi. Mahalnya harga masker yang dijual di pasaran pascaerupsi Kelud menyebabkan sebagian warga kesulitan untuk membelinya. Hujan lebat yang sempat dikeluhkan warga Jakarta kini sangat dinantikan kedatangannya oleh masyarakat Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta yang terkena dampak langsung hujan debu Kelud. Mereka berharap hujan dapat membantu membersihkan debu-debu di jalan dan di atap bangunan rumah mereka.
Debu yang masih menyelimuti Kediri dan sekitarnya ini tidak hanya berdampak pada penurunan kesehatan warga akan tetapi juga berdampak lumpuhnya aktivitas masyarakat dan kegiatan ekonomi. Para siswa di berbagai sekolah di Kediri terpaksa diliburkan karena gangguan jarak pandang dan rusaknya beberapa bagunan sekolah. Tidak hanya itu abu vulkanik Kelud juga menutupi tiga candi di Klaten seperti Candi Plaosan, Candi Sewu, Candi Sajiwan serta beberapa candi lainnya di Yogyakarta dan Jawa Tengah seperti Candi Prambanan dan Candi Borobudur.
Meskipun terlihat mulai membaik, akan tetapi  M Hendrasto, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) belum menurunkan status Kelud (tetap awas). “Saya malah khawatir tiba-tiba akan naik lagi seperti Gunung Papandayan,” jelas Hendrasto. Meskipun telah diperingatkan oleh pemerintah untuk menjauhi Kawah Kelud sejauh 10 km, akan tetapi masih banyak pengungsi yang nakal dan kembali ke rumah mereka masing-masing.
posko-ldii-kelud

Mereka kembali ke rumah mereka dengan alasan untuk memberi makan ternak mereka dan menyapu debu di atas atap rumah mereka karena takut akan membuat roboh. Hal ini menurut Hendarsto sangat berbahaya. Para pengurus DPD LDII Kediri yang bertugas di lokasi pengungsian juga menghimbau hal yang sama agar warga tetap berada di posko hingga status membaik. Para relawan ini meminta agar warga lebih bersabar dan lebih mementingkan keselamatan dirinya.
 Hingga kini, pihaknya tidak dapat memastikan kapan semburan asap dari Kawah Kelud dapat berakhir. Asap putih keabuan sesekali masih terhempas ke atas langit Kediri. Hal ini menurut Hendrasto disebabkan kerena sumbatan di bibir Gunung Kelud sehingga semburan ini berlangsung lama dan sangat tinggi.  Berdasarkan hasil pantauan tim  PVMBG hingga Sabtu sore masih terlihat semburan debu vulkanik hingga setinggi 3 km di atas permukaan kawah.  Hendrasto juga menambahkan saat ini sudah tidak terjadi gempa lagi, semburan dan suara gemuruh yang terjadi di kawah saat ini menurutnya lebih disebabkan karena tremor.
Ketua DPW LDII Jawa Timur Chriswanto meminta kepedulian masyarakat yang tak terdampak bencana untuk membantu para pengungsi pascaerupsi Gunung kelud, “mereka membutuhkan biaya untuk memperbaiki rumah dan kebun mereka yang rusak,” ujar Chriswanto. (Bahrun/LINES)
(http://ldii.or.id/)