Cari Blog Ini

Sabtu, 17 Mei 2014

Ical, Jokowi dan Prabowo Bertukar Pikiran di Rapimnas LDII


Ilustrasi kursi calon presiden - MI - Ebet

MMetrotvnews.com, Jakarta: Tiga kandidat yang bakal maju sebagai calon dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 akan saling bertukar pikiran mengenai visi misi mereka memajukan bangsa. Ketiga nama itu akan menyampaikan aspirasi dan program kerja masing-masing dalam Rapat Pimpinan Nasional Lembaga Dakwah Islam Indonesia (Rapimnas LDII) di Balai Kartini, Jakarta Selatan.

Ketiga nama itu yaitu bakal capres dari PDIP Joko Widodo atau Jokowi, capres dari Partai Golkar Aburizal Bakrie atau Ical, dan capres dari Partai Gerindra Prabowo Subianto. Rapimnas bertajuk 'Dengan Kepemimpinan yang Profesional - Religius Mewujudkan Indonesia yang Semakin Bermartabat' ini berlangsung selama tiga hari mulai 13 Mei 2014.

Namun ketiganya tak muncul bersamaan dalam satu jadwal. Jokowi hadir pada sekitar pukul 15.00 WIB, Selasa (13/5/2014); Prabowo pada 14 Mei 2014; lalu keesokan harinya yaitu 15 Mei 2014, giliran Ical berbicara dalam rapimnas.

Ketua DPP LDII Prasetyo Soenaryo mengatakan Rapimnas bertujuan mendengarkan aspirasi dan program kerja para calon. Sebab LDII berkepentingan mengundang para calon presiden untuk menyampaikan isi pikiran masing-masing demi kemajuan Indonesia.

"Ormas (Organisasi masyarakat) bukanlah organisasi yang memiliki hasrat kompetisi. Ormas lebih netral dalam melihat persoalan negara dan lebih dekat apa yang dihadapi masyarakat" ujarnya.

Sedikitnya 1.200 orang hadir dalam Rapimnas LDII. Rapimnas LDII ini dihadiri kurang lebih 1200 peserta yang terdiri dari para ulama, dewan penasehat, Pengurus DPP, DPW dari 34 Provinsi dan 350 DPD di seluruh Indonesia. Acara akan dibuka Menteri Agama Surya Dharma Ali dan Panglima TNI Moeldoko.
(http://news.metrotvnews.com/)

Senin, 21 April 2014

Panglima TNI Jenderal Moeldok, "LDII Memiliki Nilai Strategis Membangun Karakter Bangsa"

panglima-tni
Menjelang Rapat Pimpinan Nasional DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) pada 13-16 Mei 2014, LDII mengadakan audiensi dengan Panglima TNI Jenderal Moeldoko. Dalam kesempatan itu, LDII menawarkan konsep pelibatan ormas dalam sistem pertahanan nasional, sebagai bentuk pelaksanaan bela negara sesuai  pasal 27 ayat 3 UUD 1945 bahwa “ setiap warga Negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya  pembelaan Negara”.
Pertemuan antara pengurus DPP LDII dan Jenderal Moeldoko dilaksanakan pada Kamis (17/4) di Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta Timur. Dalam kesempatan itu Panglima TNI menyatakan bahwa LDII memiliki peran dan nilai strategis dalam membangun karakter bangsa, “LDII telah membina generasi muda di segala bidang, baik agama, keterampilan, cinta tanah air, olahraga dan lain sebagainya,” ujar Jenderal Moeldoko.
Jenderal Moeldoko mencontohkan bagaimana perguruan Shaolin mampu membangun karakter generasi muda di Cina sejak dini. Mereka didik sejak usia kanak-kanak hingga dewasa, untuk menjadi pendekar yang tangguh. “Inilah pembangunan karakter. Saya berharap LDII dapat membina generasi penerus bangsa sehingga mempunyai karakter yang kuat, dan profesional religius,” ujar Jenderal Moeldoko. Dalam pertemuan itu Panglima TNI didampingi Asisten Teritorial (Aster) Mayjen TNI Ngakan Gede Sugiartha Garjitha dan Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI M. Fuad Basya.
Di samping beraudiensi, Ketua Umum DPP LDII Prtof Dr Ir KH Abdullah Syam, MSc menyerahkan surat undangan Rapimnas LDII 2014 kepada Jenderal Moeldoko. Abdullah Syam dalam paparannya mengungkapkan kegiatan LDII, selain dakwah, juga membangun karakter generasi muda sejak dini di berbagai bidang. “Setiap warga LDII dibina sejak usia dini. Untuk jenjang kanak-kanak disebut sebagai cabe rawit, muda-mudi, hingga usia dewasa. Untuk keluarga dibekali dengan pelatihan mengasuh anak, membina keluarga sakinah,” kata Abdullah Syam.
LDII meyakini bahwa Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD 45, dan NKRI adalah harga mati, untuk itulah LDII menanamkan wawasan kebangsaan dalam berbagi seminar dan pengajian di lingkungan LDII. “Kami ingin mewujudkan generasi yang professional religious, berkarakter kuat, dan cinta tanah air,” ujar Ketua DPP LDII Ir H. Prasetyo Sunaryo, MT.
Menanggpi pemaparan LDII, Jenderal Moeldoko mengungkapkan pentingnya peranan LDII dalam membangun umat Islam agar tidak terpecah-pecah dan bisa saling bekerjasama, baik sesama ormas maupun dengan lembaga negara antara lain dengan TNI, agar terciptanya NKRI yang kuat.
panglima-tni-ldii
“Saya menyayangkan ada pemahaman umat Islam yang keliru, orang Islam yang tinggal di Indonesia, atau orang Indonesia yang beragama Islam, yang hidup dalam keberagaman, baik suku, agama, dan kebudayaan, karena itu Islam mengajarkan agar kita bisa hidup berdampingan dengan sesama warga demi tercapainya Indonesia yang satu,” ujar Jenderal Moeldoko. Persoalannya, menurut Panglima TNI, ada beberapa elemen kelompok Islam yang memaksakan kepahaman mereka itu dan menebarkan bibit permusuhan ke umat beragama lain. Memecah belah kesatuan bangsa. Secara blak-blakan mengkafir-kafirkan orang lain dan lain sebagainya.

“LDII berdasarkan Alquran dan Alhadist berarti tidak ada yang menyimpang. Apalagi asas organisasinya UUD 1945 dan Pancasila, yang mengedepankan kesatuan dan persatuan bangsa dalam keberagaman. LDII harus selalu bisa menjaga pluralisme dan mau bekerjasama dengan umat beragama lain,” ujar Jenderal Moeldoko.
Jenderal Moeldoko meminta LDII membuat nota kesepahaman atau bekerjasama dengan TNI membina karakter bangsa dam membangun karakter generasi muda yang kuat. Sehingga ada gerakan yang sama di bawah seperti di Korem, Kodim, dan Babinsa, bekerjasama dengan LDII melakukan dakwah bersama dengan sekaligus memasukkan materi membangun karakter bangsa. “Selain itu, banyak sektor lain yang bisa kita kerjasama. Penandatanganan nota kesepahaman bisa dilakukan pada saat Rapimnas LDII bulan Mei mendatang,” ujarnya.
Hadir dalam pertemuan Dewan Penasihat DPP LDII KH Abdul Syukur), KH. Abdullah Syam, H. Prasetyo Sunaryo, H. Chriswanto Santoso, H. Dody Taufiq Wijaya, H. Abu Bakar Sidiq, H. Hidayat Nahwi Rosul, H. Ashar Budiman, H. Rully Kuswahyudi, dan Eko Mugianto. (Eko/LINES)
(http://www.ldii.or.id/)

Rabu, 26 Maret 2014

LDII : Merakit Kerangka Integrasi Bangsa Melalui Kerukunan Umat Beragama

kerukunan-ldii-umat-beragam
Pluralisme di Indonesia, membuat setiap warga negara berusaha keras menjaga kerukunan hidup antar umat beragama. Beban ini kian berat di sisi lain, bangsa Indonesia yang berbeda-beda secara ras dan agama, rentan mengalami perpecahan bila semua warga negara tak menjaga persatuan dan kesatuan.
Pada Sabtu, (22/3) lalu DPP LDII menggelar Focus Group Discussion mengenai kerukunan antar umat beragama. Tema ini terbilang klasik namun tetap menarik perhatian. Sebab, ketika bangsa lain kagum terhadap prestasi Indonesia menjaga keberagaman, namun di dalam negeri, selalu terjadi kasus perusakan tempat ibadah dan pemaksaan antara satu agama dengan agama lain. Meskipun secara garis besar, tidak mempengaruhi persatuan bangsa.
Untuk meminimalkan pertentangan antar umat beragama DPP LDII terus membina komunikasi lintas agama dan di internal umat Islam sendiri, "Tugas besar kita adalah bagaimana membangun komunikasi antar umat beragama dan memelihara sikap empati dengan sesama sejak dini karena dasar manusia diciptakan dengan sikap empatinya," ujar ketua DPP LDII Chriswanto Santoso.
Chriswanto berpendapat adanya ideologi barat yang dibawa oleh orang-orang yang seakan-akan ideologi Indonesia sama dengan yang lain. Padahal Indonesia berbeda karena 'Kebhinekaannya', yang justru dengan keberagamannya menjadi modal utama untuk untuk maju. “Pokok persoalan muncul ketika sikap toleransi rendah, agama yang seringkali dijadikan pengalihan isu, fanatisme berlebihan, dan kesenjangan ekonomi,” kata Chriswanto.
Pendeta Martin Lukito Sinaga menambahkan bahwa manusia sekarang ini butuh perdamaian karena banyaknya konflik akibat pengerasan politik identitas. Politik identitas ini, apabila dijadikan alat eksklusivitas, tidak akan membawa kebaikan apalagi perdamaian. Agama yang ingin identitasnya maju, tidak harus mengubah tatanan hidup. Disinilah pentingnya ukhuwah. Yang mana melewati proses Ta'aruf(Pendekatan), Tafahhum(Memahami) dan Takafful(Empati).
Menurut Chriswanto, ukhuwah perlu dikuatkan dengan adanya komunikasi, tata krama yang sesuai dengan adat ketimuran, kepercayaan dan pengendalian emosi. Dengan demikian, kerukunan tercipta di Indonesia tanpa harus kehilangan jati diri Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
kerukunan-ldii
Adanya kerukunan umat beragama ini diwadahi oleh Forum Kerukunan Umat Beragama(DKI Jakarta) yang diketuai oleh Prof. Dr. Ahmad Syafi'i Mufid. Sesuai dengan tema FGD, Syafi'i menyampaikan makalah yang berjudul "Agama Sebagai Faktor Pemersatu Bangsa : Peran FKUB Dalam Integrasi Nasional". Dalam makalah tersebut dipaparkan, bagaimana kerukunan antar umat beragama dibangun antara lain untuk mencegah konflik sosial yang mengancam integrasi bangsa.
"Manusia berbeda secara substansi, tinggal bagaimana kita menerima perbedaan tersebut. Pengaplikasiannya, kita harus bisa menghargai perbedaan akal dan pikiran", ujar Syafi'i. Syafi'i berharap kepada LDII untuk terus komitmen dalam berdakwah menerapkan kerukunan umat beragama. Melalui FGD diharapkan juga bukan hanya sebagai diskusi permasalahan, namun membahas bagaimana penyelesaian permasalahan-permasalahan ketidakrukunan di Indonesia.
LDII, sebagai organisasi kemasyarakatan berbasis agama Islam, sangat menjunjung kerukunan umat beragama dan kesatuan NKRI yang bertujuan meningkatkan peradaban hidup, harkat serta martabat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Serta mendukung terwujudnya masyarakat madani yang demokratis, berakhlak mulia, sadar akan harga diri bangsa dan berkeadilan sosial berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. (Noni/Foto: Ayu/LINES)

Senin, 24 Maret 2014

Menteri Agama Suryadharma Ali: "LDII Bisa Menjadi Penghubung Perbedaan Agama di Indonesia"

ldii-suryadharma-ali
LDII beraudiensi dengan Kementerian Agama pada Kamis (20/3) untuk menyampaikan undangan Rapimnas LDII 2014 yang diselenggarakan pada 13-15 Mei 2014. Pada kesempatan tersebut, LDII meminta Drs. H. Suryadharma Ali M.Si selaku Menteri Agama RI periode 2009-2014 untuk membuka Rapimnas 2014.
Dalam pertemuan yang hangat dan cenderung jauh dari kesan resmi itu, Ketua Umum DPP LDII Pro Dr Abdullah Syam Msc, menyatakan LDII menggelar Focus Group Discussion (FGD) sebelum Rapimnas, yang bertujuan menajamkan tema-tema penting yang akan dibawakan dalam Rapimnas, “Tema-tema penting itu akan menjadi masukan bagi para capres untuk membangun bangsa,” ujar Abdullah Syam. Salah satu FGD yang dilaporkan kepada Menteri Agama Suryadharma Ali adalah kerukunan antar umat beragama, yang mengundang berbagai tokoh lintas agama dan tokoh-tokoh yang terhimpun dalam Forum Kerukunan Umat Beragama.

LDII juga mengundang Suryadharma Ali sebagai pembicara pada forum yang diadakan Sabtu (22/3). Terkait dengan hal tersebut, Suryadharma Ali mengemukakan bahwa persoalan kerukunan beragama banyak dialami bangsa-bangsa di luar Indonesia,  seperti Eropa. Seperti contoh, pemberlakuan tanggal merah pada setiap hari besar agama yang ada di Indonesia namun tidak diberlakukan di negara besar seperti Amerika Serikat. "Pemberlakuan tanggal merah di Amerika Serikat sangatlah sedikit mengingat mayoritas umat kristiani yang menghuni negara tersebut," ujar Suryadharma Ali.

Suryadharma Ali menambahkan, mereka, negara-negara besar tersebut ingin mencontoh kerukunan umat beragama yang dapat terjalin dengan baik di Indonesia. Bagaimana Indonesia dapat menjaga keseimbangan kerukunan dengan berbagai macam agama di Indonesia dan syari'atnya.

Bagi LDII kerukunan antar umat beragama hanya dapat dipersatukan dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Jelas tertuang dalam sila pertama Pancasila bahwa Indonesia didasari oleh Ketuhanan Yang Maha Esa. Yang artinya, setiap warga negara Indonesia diberi kebebasan memeluk agama tanpa diskriminasi dari pihak mana pun.

Sehubungan dengan Rapimnas LDII 2014, Suryadharma Ali berharap, masa depan Islam lebih baik lagi dan kegiatan tersebut bisa menjadi konsolidasi bagi umat Islam di Indonesia. Perlunya konsolidasi keagamaan agar menjadi jembatan penghubung setiap perbedaan agama bagi masyarakat multikultur Indonesia. (Noni/foto: Ayu/LINES)
(http://www.ldii.or.id/)